September 10, 2012

Lalapan Lele



Cerita ini adalah pengalaman pribadiku ketika aku masih duduk di kelas 6 SD. Ketika itu sekolahku memberi mata pelajaran tata boga untuk kelas 5 dan 6. Entah kenapa waktu kelas 5 kelasku tidak mendapat kesempatan untuk praktek masak, jadi kesempatan itu sangat kutunggu di kelas 6. Akhir semester 1 kesempatan itu datang. Dipandu oleh guru wali kelas 5, Ibu S yang akrab dengan Bapakku karena sama-sama tipe guru yang keseriusan mengajarnya tinggi.

Diawali dengan pembagian kelompok, dengan masing-masing anggota 8 orang (kalau tidak salah), Ibu S membebaskan murid-muridnya untuk memilih sendiri kelompoknya. Kebetulan aku tidak masuk, sehingga tidak tahu mengenai pembagian kelompok itu. Anehnya, Ibu S tidak menyampaikan apapun ke Bapakku. Aku baru tahu ketika teman dekatku, Ika, menceritakannya dan ternyata ada sekelompok anak yang dianggap “tidak kompeten”, terdiri dari anak-anak yang tidak naik kelas dan yang kurang bergaul, tidak mendapat kelompok. Langsung saja kurekrut mereka semua (termasuk Ika) ke dalam kelompokku, tanpa pilih-pilih lagi. 





Tema masakan yang tidak ditentukan membuat kami leluasa untuk memilih. Karena waktu berlangsung prakteknya siang hari, aku terpikir untuk membuat menu yang segar. Di rumah Ika, kelompok kami berembug. Akhirnya kami memutuskan akan memasak menu lalapan yang terdiri dari nasi, lele goreng, sayuran segar, sambal, dengan minuman jus jeruk. Cukup simpel dan efektif kurasa…haha

Kurang dari dua hari, kami mempersiapkan alat dan bahan. Rata-rata alat yang kami gunakan dipinjam dari Ika, karena rumahnya paling dekat dengan Sekolah. Kami mencuci dan mengeringkan semuanya bersama-sama. Beberapa properti seperti taplak meja dan vas bunga yang tidak kami dapatkan di tempat Ika, kami pinjam dari rumah Yoga, teman adikku, yang rumahnya bersebelahan dengan sekolah. Aku yang terpilih sebagai ketua, mengumpulkan iuran dari teman-teman. Bahan penting yang harus segera dicari adalah lele. Eko yang tertua di antara kami, kubari tanggung jawab untuk hal itu. Sayang sekali saat itu bukan musim lele, sehingga Eko tidak juga dapat hingga hari H.




Kami tetap dengan rencana memasak lalapan lele. Pagi sekali aku menyuruh Eko untuk membeli lele di daerah Pesanggaran (kecamatan lain, cukup jauh). Aku berharap dia bisa segera mendapatkannya karena kalau tidak, berarti kelompok kami gagal. Kami mengerjakan masakan dengan semangat. Aku menyiapkan bumbu lele, Ika menanak nasi (bukan pakai magic com), Tumiasih menyiapkan alat-alat makan, 2 cowok (aku lupa nama mereka) menyiapkan jus jeruk (cukup menyita waktu karena harus diperas satu-satu) dan cowok terakhir menyiapkan sayur-sayurnya. Setelah selesai menyiapkan bumbu, aku menunggu kedatangan lele. 

Tak lama, Eko datang dengan lele yang masih remaja (ukurannya masih agak kecil), karena hanya itu yang bisa dia dapat. Aku segera mengambil kantung kresek berisi lele yang dia bawa untuk segera diolah. Kukeluarkan lele-lele itu di tanah sebelah gedung kelas 6. Ketika aku memukul–mukul kepala lele supaya segera lemas, adik-adik kelasku banyak yang menonton karena penasaran. Ada yang jijik, ada yang heran kenapa aku tidak jijik atau takut kena patil, ada yang asyik menonton saja…hahaha XD.




Setelah selesai, segera lele itu kugoreng. Saking terburu-buru karena takut waktunya tidak cukup, hasilnya kurang kering. Tapi aku tetap puas dengan masakan kami, karena bagaimanapun kami mengerjakan sendiri, tidak seperti kelompok lain yang dibantu oleh Ibu S (aneh memang kenapa kelompok kami satu-satunya yang tidak dibantu). Waktu habis. Kami diminta untuk keluar ruangan karena para guru akan menicipi, makan, kemudian menilai. Kami merasa was-was kalau-kalau masakan kami tidak enak.

Para guru sudah selesai dengan urusan mereka. Kami segera menuju kelas untuk makan masakan kami sendiri. Sebelumnya, aku menanyakan ke Bapakku yang sudah mencicipi, bagaimana masakan kelompokku. Beliau bilang lelenya kurang garing, tapi keseluruhan enak, cocok untuk menu siang hari yang lagi panas. Akupun gembira mendengarnya, apalagi Bapak bilang kalau meja kelompokku yang paling rame didatangi para guru. Benar saja, masakan kami hampir ludes, hingga untuk kami makan sendiri saja kurang. Akhirnya aku memutuskan untuk mengumpulkannya untuk diberikan kepada Ibu Yoga yang telah meminjamkan properti. Teman-teman menyetujuinya dan memilih untuk mengisi waktu dengan ngobrol santai sambil minum jus jeruk.



Ketika pengumuman nilai, ketua kelompok yang dipanggil untuk maju ke meja guru (Ibu S). Entah kenapa sifat jahilku tiba-tiba keluar dan dengan santainya aku menatap Ibu S sambil tersenyum, kemudian bertanya, “Bagaimana buk nilai kelompok kami?”. Pertanyaan yang sudah jelas jawabannya, karena semua sudah tahu kalau kelompokku yang paling unggul. Ibu S memperlihatkan lembar penilaian tanpa menjawab. Meski aku tidak pernah cerita kepada Bapak mengenai sikap beliau, belakangan aku tahu kalau ternyata kakakku juga diperlakukan demikian. Entah karena alasan apa, sikap itu menurutku tidak pantas dilakukan seorang guru kepada muridnya.

Sepertinya cerita ini lebih cocok diberi judul "Curhatan Anak SD"...? hahaha


---END--- 

2 comments:

RYNEM said...

ada award buat blog kamuh, buka ke http://rynemblog.blogspot.com/2012/09/the-pink-award-meski-pink-tapi-sumpah.html

Lulu Niha said...

halah...
geje puuuol